Senin, 19 September 2011

Ayat Al-Quran yang pertama diturunkan


Dari beberapa hasil pengamatan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallamsebelum itu telah membentangkan jarak pemikiran antara diri beliau dengan kaum beliau. Selagi usia beliau hampir mencapai empat puluh tahun, sesuatu yang paling disukai adalah mengasingkan diri. Dengan membawa roti dari gandum dan air beliau pergi ke gua Hira di Jabal Nur, yang jaraknya kira - kira dua mil dari Makkah, suatu gua yang tidak terlalu besar, yang panjangnya empat hasta dan lebarnya antara tiga perempat hingga satu hasta. Kadang - kadang keluarga beliau ada yang menyertai kesana. Beliau menghabiskan waktunya untuk beribadah, memikirkan keagungan alam dan sekitarnya dan kekuatan tak terhingga dibalik alam. Beliau tidak pernah merasa puas melihat keyakinan kaumnya yang penuh kemusyrikan dan segala persepsi mereka yang tak pernah lepas dari tahayul.
Pilihan beliau untuk mengasingkan diri ini termasuk satu sisi dari ketentuan Allah atas diri beliau, sebagai langkah persiapan untuk menerima urusan besar yang sedang ditunggunya. Ruh manusia manapun yang realitas kehidupannya akan disusupi suatu pengaruh dan dibawa ke arah lain, maka ruh itu harus dibuat kosong dan mengasingkan diri untuk beberapa saat, dipisahkan dari kesibukan duniawi dan gejolak kehidupan serta kebisingan manusia yang membuatnya sibuk pada urusan kehidupan.

Begitulah Allah mengatur dan mempersiapkan kehidupan Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, untuk mengemban amanat yang besar, merubah wajah dunia dan meluruskan garis sejarah. Allah telah mengatur pengasingan ini selama tiga tahun bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sebelum membebaninya dengan risalah. Beliau pergi untuk mengasingkan diri ini selama jangka waktu sebulan, dengan disertai ruh yang suci sambil mengamati kegaiban yang tersembunyi dibalik alam nyata, hingga tiba saatnya untuk berhubungan dengan kegaiban itu tatkala Allah sudah memperkenankannya.

Selagi Usia beliau genap empat puluh tahun, suatu awal kematangan, dan ada yang berpendapat bahwa pada usia inilah rasul diangkat menjadi rasul, mulai tampak tanda - tanda nubuwah yang menyembul dari balik kehidupan pada diri beliau.

Dituturkan dari Aisyah Radhiyallahu Anhu, bahwa Awal permulaan wahyu yang datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ialah berupa mimpi yang hakiki didalam tidur beliau. Beliau tidak melihat sesuatu didalam mimpinya melainkan ada sesuatu yang datang menyerupai fajar subuh. Kemudian beliau suka mengasingkan diri. Beliau menyendiri di gua Hira' dan beribadah disana, hingga datang kebenaran tatkala beliau sedang berada di gua Hira'. Malaikat mendatangi beliau seraya berkata, "BACALAH!" berikut penutura beliau, "Aku tidak bisa membaca" Dia ( malaikat Jibril ) memegangiku dan merangkulku hingga aku merasa sesak. Kemuadian melepaskanku, seraya berkata lagi, "BACALAH!" Aku menjawab,"Aku tidak bisa membaca."

Dia memegangiku dan merangkulku hingga ketiga kalinya hingga aku merasa sesak, kemudian melepaskanku, lalu berkata,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." ( Al-Alaq : 1 - 5 )

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengulang bacaan ini dengan hati yang bergetar, lalu pulang menemui Khadijah bin Khuwailid, seraya bersabda, "Selimuti aku, selimuti aku!" maka beliau diselimuti hingga badan beliau tidak lagi mengigil layaknya terkena demam.

"Apa yang terjadi padaku?" Beliau bertanya kepada Khadijah. Maka dia memberitahukan apa yang baru saja terjadi. Beliau bersabda, "Aku khawatir terhadap keadaan diriku sendiri"

Khadijah berkata, "Tidak. Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, karena engkau suka menyambung tali persaudaraan, ikut membawakan beban orang lain, memberi makan orang yang miskin, menjamu tamu dan menolong orang yang menegakkan kebenaran."

Selanjutnya Khadijah membawa beliau pergi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul-Uzza, anak paman Khadijah. Waraqah adalah seorang Nasrani semasa Jahiliyah. Dia menulis buku dalam bahasa Ibrani dan juga menulis Injil dalam bahasa Ibrani seperti yang dikehendaki Allah. Dia sudah tua dan buta.

Khadijah berkata kepada Waraqah, "Wahai anak pamanku, dengarkanlah kisah dari anak saudaramu ( Rasulullah )."

Waraqah bertanya kepada beliau, "Apa yang pernah engkau lihat wahai anak saudaraku?"

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengabarkan apa saja yang telah dilihatnya. akhirnya Waraqah berkata, "Ini adalah Namus yang diturunkan Allah kepada Musa. Andaikan saja aku masih muda pada masa itu. Andaikan saja aku masih hidup tatkala kaummu mengusirmu"."Benarkah mereka akan mengusirku?" beliau bertanya. "Benar. Tak seorangpun pernah membawa seperti yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi. Andaikan aku masih hidup pada masamu nanti, tentu aku akan membantumu secara sungguh - sungguh." Waraqah meninggal dunia pada saat - saat turun wahyu.